Pengobatan Dan Alhikmah Ilmu Banten
Pengertian Mukhalafah Lilhawaditsi Sifat 20 Allah Reviewed by Rama Banten RB on 16:51 Rating: 4,8

Pengertian Mukhalafah Lilhawaditsi Sifat 20 Allah

Pengertian Mukhalafah Lilhawaditsi Sifat 20 Allah

Mukhalafah Lilhawaditsi (Tidak sama dengan yang baru) adalah sifat Salbiyah artinya sifat yang mencabut atau menolak adanya persamaan Allah dengan yang baru. Dalam arti lain bahwa Allah tidak sama dengan yang baru atau berbeda dengan makhluk ciptaanya. Perbedaan Allah dengan makhluknya mencakup segala hal baik dalam dzat sifat dan perbuatannya.

Allah berfirman : 
Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan dia, dan dialah yang maha mendengar lagi maha melihat. (QS. As-Syura : 11).

Seumpanya terlintas dalam pikiran seseorang bahwa Allah itu seperti yang ia hayalkan atau bayangkan, maka Maha Suci Allah, Dia tidak seperti apa yang dihayalkan atau di pikirkannya. Makanya jangan sekali kali memikirkan atau menghayalkan atau membahas dzat Allah karena manusia tidak akan mampu untuk melakukannya. 

Adapun kebalikan dari Al-Mukhalafah Lil Hawaditsi adalah Mumatsalah lil Hawaditsi, yakni mustahil Allah sama dengan yang baru atau sama dengan makhluk-Nya. Tentu ini adalah hal yang mustahil. 

Contoh yang paling gampang adalah kursi yang dibuat dari kayu. Kursi dibuat oleh tukang. Mustahil kursi itu sama dengan tukang pembuat kursi. Sifat ini menjelaskan bahwa tukang pembuat kursi berbeda dengan hasil ciptaannya. 

Dan masih banyak lagi contoh contoh yang lain. Apakah ada kesamaan antara pencipta dengan hasil ciptaannya? Tentu berlainan bukan? Bahkan robot yang dibuat mirip dengan manusia saja tidak akan sama dengan manusia yang membuat robot itu. 

Kalau itu sesama benda, apalagi Allah yang menciptakan seluruh alam semesta, sudah pasti berbeda dengan ciptaan-Nya. Mustahil Allah itu sama dengan ciptaan-Nya. Jika sama dengan makhluknya misalnya terbuat dari darah, daging dan tulang niscaya Allah itu bisa mati, bisa dibunuh atau bisa disalib oleh manusia. 

Jadi mustahil jika Allah itu dilahirkan, melahirkan, menyusui, buang air, tidur, lupa dan sebagainya. Itu semua adalah sifat manusia, bukan sifat Allah. Allah itu Maha Besar, Maha Kuasa, Maha Perkasa, Maha Hebat. Dan segala Maha-Maha yang bagus lainnya harus disifatkan kepada sifat sifat Allah. 

Kita mempercayai bahwa Allah itu hidup, tapi sifat hidup Allah berbeda dengan sifat hidup makhluk Nya. Allah itu dari dulu, sekarang, dan kapan saja hidup. Tidak ada batas dalam kehidupan Allah. 

Sebaliknya makhluk-Nya seperti manusia dulunya tidak ada, kemudian dilahirkan, kemudian berada dan hidup setelah dilahirkan, setelah itu tidak ada lagi atau mati lalu dikubur. Jadi meskipun sekilas sama arti hidup, namun sifat hidup Allah berbeda dengan makhluk-Nya.

Bukan sifat hidup saja yang berbeda tapi semua sifat sifat Allah lainnya juga berbeda dengan sifat sifat makhluk-Nya, berlainan dan tidak serupa dengan makhluk-Nya. 


Hikmah Dan Atsar

Kita sebagai muslim jangan sekali kali memikirkan atau menghayalkan atau membahas dzat Allah karena kita tidak akan mampu untuk melakukannya. Justru jika kita mengakui akan kelemahan kita, berarti kita telah mengenal Allah. Sayyidina Abu Bakar Shiddiq berkata, ”Ketidakmampuan untuk mengetahui Allah adalah sebuah kemampuan sedangkan membahas dzat Allah adalah kufur dan syirik


Newer post Older post Home